|
Selasa, 30 Mei 2006 ESQ Menjelajah Eropa Angin mulai menghalau musim semi. Di sudut komplek sebuah sekolah di Amsterdam, hampir seratus hati merunduk, panas udara ruangan tak menghalangi kekhusukan berdoa mengharap kecintaanNya. Yell ESQ dalam bahasa Belanda pun diteriakan memacu semangat: ESQ KRIGHER! Ga, ga, ga! Vecht, vecht, vecht! Win, win, win! ESQ Krigher, een zes vijf! "Saat ini saya merasa sangat berbahagia, seakan-akan saya ini orang yang paling bahagia di dunia ini," ungkap Moh Fikri Ferdinandus, salah seorang alumni berkomentar tentang terselenggaranya training ESQ Eropa I di Amsterdam. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 12-14 Mei 2006 ini diselenggarakan oleh Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa Wilayah Nederland (PPME Nederland) bekerja sama dengan Korp Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) KBRI Den Haag, dan Masjid Al-Hikmah. Dengan mengambil tempat di Breede El-Amien School, Saaftingestraat 312, 1069 BW Amsterdam-Osdorp, acara berlangsung lancar disertai dengan respons peserta yang sangat antusias. Acara ini tampaknya dapat memberi kesejukan bagi dahaga jiwa para peserta yang kebanyakan adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Belanda dan sebagian warga negara Belanda keturunan Indonesia, serta sebagian kecil warga asli Belanda. Rasa dahaga akan kegiatan bernuansa spiritual tak dapat disembunyikan. "Bagaikan ikan yang terlempar ke sebuah daratan, begitu yang kami rasakan hidup di negara yang menyanjung kebebasan dan kering sentuhan spiritual," ungkap Evelyn di sela-sela acara. Ratna Suryani, 40 tahun, tinggal di Brussel, mengaku untuk mengobati dahaga rohaninya, kerap datang ke gereja untuk sekadar mencari setitik kesejukan. "Saya datang menemui pastor semata-mata karena dorongan rasa haus yang sulit digambarkan."Hal tersebut dapat dipahami, menurut Holland Handbook, Nuffic, saat ini hampir 40 persen dari penduduk Netherlands yang berusia di atas 18 tahun mengklaim dirinya sebagai ateis atau tidak menganut agama tertentu. Sisanya, 31 persen beragama Katolik, 21 persen Protestan, 5 persen Muslim, dan 3 persen terbagi-bagi ke dalam agama lainnya. Hanya sedikit yang mengunjungi tempat ibadah yang saat ini tidak lagi dianggap sebagai bangunan yang sakral. Wajar jika di negeri ini banyak gereja tua yang beralih fungsi menjadi gedung konser, ruang pameran, atau gedung pertemuan. Karena itu bisa dibayangkan kegersangan spiritual yang dirasakan. Seorang Bapak di sela sharing-nya mengaku sudah 30 tahun tidak melakukan shalat. Sedangkan seorang mahasiswa dari Groningen dalam doanya meratap "Ya Allah, ampuni kami yang selama ini mempertuhankan pikiran kami, malam-malam kami tenggelamkan diri kami ke dalam tumpukan buku-buku, dan kami lupa untuk menemui Engkau, ya Allah!" Pagi di hari pertama pun sudah begitu banyak air mata yang tertumpah, suara isak bahkan teriakan tak tertahankan. Padahal acara belum beranjak jauh. Jangan membayangkan suasana training ESQ dengan kesejukan dan fasilitas standar hotel berbintang. Sport hall tanpa mesin pendingin tak menghalangi totalitas trainer Ary Ginanjar Agustian dan Rinaldi Agusyana dalam menyampaikan materi, juga kekhusukan para peserta mengikuti sesi demi sesi acara. Sejak awal, suasana memang sudah terasa lain. Sambutan dari Kuasa Usaha RI untuk kerajaan Belanda, Djauhari Oratmangun, menunjukkan optimismenya. "Setelah pelatihan ini saya yakin ibu dan bapak sekalian akan makin menjadi warga negara yang jauh lebih baik. Pengenalan jati diri yang diajarkan dalam training ini akan memberikan kontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia sehingga dapat menjadi panutan." A Hambali Maksum penasihat PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) yang telah bermukim di Belanda selama lebih dari 35 tahun, mengantarkan pada kesadaran betapa pentingnya perpaduan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. "Bagaikan sebuah lagu, betapapun indahnya, kalau penyanyinya parau, siapa yang mau mendengarkan. Begitulah perumpamaan nasib umat Islam saat ini yang sedang mengalami krisis keseimbangan antara ketiga kecerdasan tadi sehingga merusak citra Islam." Tak hanya peserta yang berasal dari Indonesia yang merasakan hikmah dari acara ini. Warga asli Belanda yang hanya sedikit menguasai bahasa Indonesia pun merasakan getaran yang merasuk ke dalam jiwa. Rud van Herp yang mengaku hanya sedikit memahami isi materi ini begitu tergugah kesadarannya. Begitu pula Peter van Oorchot, ayah dua orang putra, merasakan kebahagiaan luar biasa setelah mengikuti training ini, karena kini ia merasakan gambaran yang lebih jelas tentang Islam. Keduanya mengakui bahwa materi ESQ sangat cocok untuk disampaikan bagi penduduk Netherlands khususnya dan warga Eropa yang saat ini umumnya tidak percaya akan agama. Masih menurut Holland Handbook, dikatakan bahwa pada tahun 2020, Islam diproyeksikan menjadi agama kedua terbesar. Diperkirakan 7% masyarakat akan menganut agama Islam dan 10 persen yang tetap menganut agama Katolik. Ada lebih dari 500.000 Muslim di Belanda. Islam menjadi salah satu agama utama di sana. Jika Islam bisa disosialisasikan dengan baik Islam sagat mungkin menjadi alternatif pilihan manusia yang secara fitrah mengakui adanya Sang Pencipta. Apa yang telah berlangsung selama tiga hari di Amsterdam, tampaknya menorehkan kesan yang begitu dalam, baik bagi para peserta maupun tim ESQ. Bagi Ary Ginanjar sendiri merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan, "Saya sudah melaksanakan training ratusan kali di berbagai kalangan dari mulai Aceh, Kalimantan, Sulawesi, dan hampir seluruh provinsi. Belum pernah melihat sebuah reaksi yang begitu dahsyat dan sangat mengharukan, seperti training di Amsterdam ini. Hal ini menggambarkan betapa di Eropa, sangat kering dengan nuansa spiritualitas. Mereka seperti orang yang berada di padang pasir yang selama seminggu tidak mendapatkan air." "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alquraan itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS 41:53).
( ida s widayanti ) |