Home arrow News Headlines arrow Interview with Myra Ferdinandus

Next ESQ Training Session will be on 15-18 May 2008
(Click here for more information!)

Want to participate? Click here!

Interview with Myra Ferdinandus Print E-mail

Selasa, 20 Juni 2006
Miranda Kartika Sari Ferdinandus

Tidak Main-main dengan Agama

Gadis kelahiran Maassluis, Rotterdam ini tampak sibuk di temui di sela-sela acara training ESQ Eropa I Mei lalu. Kesibukannya itu ternyata tak hanya sampai di situ, ketika dihubungi sepuluh hari lalu, ia tengah mengkoordinir pengumpulan dana untuk korban gempa Yogya.

Ketika diajak ikut training ESQ Teens tiga tahun yang lalu ia mengaku merasa enggan. "Pertama Myra males banget ikut ESQ, karena yang terpikir ESQ itu seperti pesantren. Setelah selesai training, Myra merasa menyesal karena sudah berpikiran negatif. Padahal yang Myra dapat adalah perasaan tenang dan damai yang begitu indah. Myra merasa yakin bahwa Islam adalah agama yang tepat. Dengan training ESQ ini, Myra diingatkan untuk tidak bermain-main dengan agama," ujar alumnus ESQ Teens Angkatan 5, tahun 2003. Waktu itu ia tengah belibur ke Jakarta, namun ternyata sudah didaftarkan ESQ oleh saudara sepupunya.

Materi yang didapat selama training menggerakannya untuk menulis artikel di bulletin remaja PPME IQRA. Dalam artikel itu ia menulis tentang pendidikan dan menjelaskan apa itu spiritual quotient (SQ). "Myra jelaskan bahwa SQ itu sama pentingnya dengan IQ dan EQ. Sangat sedikit orang yang menyadari akan hal ini." Selain itu ia menceritakan pengalamannya selama 2 hari mengikuti training ESQ Teens.

Ia begitu antusias mambantu pelaksanaan training ESQ Eropa I di Amsterdam. "Waktu ikut training di Jakarta tidak banyak kenalan, tapi training di Amsterdam, hampir 50 persen sudah kenal karena dari jamaah PPME jadi akrab sekali. Apalagi waktu Mars ESQ, wow semangatnya, dari yang paling tua sampai termuda! Luar biasa kesannya!" Ketika penutupan training, ia terpilih sebagai ketua Fosma Netherland, "Alhamdulillah Forum Silaturahmi Mahasiswa (Fosma) Belanda terbentuk, dengan izin Allah, Myra diamanahkan sebagai ketua Fosma Belanda. But to be honest I don't feel like I'm the leader," aku mahasiswi tingkat akhir jurusan komunikasi yang sedang menyelesaikan skripsi ini. Meski demikian ia sangat bersemangat untuk dapat menjalankan amanah ini sebaik mungkin. Ia juga berharap dapat menjalin berkerja sama dengan Fosma di Indonesia.
Banyak hal yang ia rencanakan, diantaranya membantu kegiatan promosi untuk penyelenggaraan ESQ angkatan ke II. Sedangkan untuk menjalin komunikasi antar alumni di Belanda ia dan timnya sedang merancang konsep website Fosma Belanda.

Tentang kuliah dan cita-citanya, "Insya Allah, Myra selesai kuliah Juli mendatang. Dalam hati kecil, Myra ingin sekali untuk dapat menyumbangkan ilmu dan tenaga untuk menolong rakyat kecil." Tahun lalu ia mengikuti proyek dari kampus di Desa Parang, Kediri. Kerja sukarela yang dilakukan bersama pelajar-pelajar dari Jepang, Korea, Hong Kong, Indonesia dan Belanda. "Suatu pengalaman yang sangat berharga! Mudah-mudahanan Myra dapat mengerjakan kesempatan ini di dalam pekerjaan yang akan datang," ujarnya antusias.

Mengenai remaja Belanda, menurutnya mereka cenderung to the point, terutama dalam memberi kritik. "Apabila ada sesuatu yang tidak disukai atau disetuju, mereka langsung saja menyampaikan tanpa alasan ini-itu! Sedangkan remaja di Indonesia, lebih menghormati perasaan orang lain sangat berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu agar tidak salah mengerti. Tentunya remaja di Indonesia lebih sopan dari remaja di Belanda. Remaja di Belanda sifatnya lebih mandiri, beda dengan remaja Indonesia yang kadang untuk mengambil sepatu saja minta bantuan pembantu," paparnya.

Menurutnya menjalankan ajaran Islam di sekeliling masyarakat yang mayoritas non-muslim terasa cukup berat. Sebagai orang muslim ia merasa harus bisa tegas menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim. "Mereka belum mengenal apa itu Islam, mereka berprasangka sangat negatif terhadap Islam. Apalagi setelah kejadian 11 September (2004), tugas kita sebagai orang Islam lebih berat!"

Putri tunggal dari Mohammad Fikri Ferdinandus ini mengaku merasa hubungan dengan kedua orang tuanya sangat dekat. "Dengan papa dan mama, Myra merasa seperti sahabat. Myra bisa cerita macam-macam, menyampaikan ide-ide, dapat menolak apabila tidak setuju. Papa dan mama tidak saja memberi pentunjuk berharga, tapi juga bisa di ajak bercanda dan enjoy bersama." Ia merasa diberi kebebasan untuk banyak hal. "Insya Allah, papa mama dapat Myra jadikan sebagai contoh untuk langkah-langkah di masa yang akan datang."

Ia berharap untuk training yang akan datang di Belanda pesertanya bisa jauh lebih banyak. "Karena sekarang sudah ada 99 alumni di Belanda, mudah-mudahan lebih banyak yang bisa membantu promosi." Ia menambahkan, "Kami berharap akan lebih banyak remaja yg ikut serta training ESQ, bukan hanya untuk menambah jumlah anggota Fosma Belanda. Tetapi karena kami adalah penerus generasi Islam mendatang di Netherlands!"

( ida s widayanti )

 
< Prev   Next >

(C) 2009 ESQ Europe